- PENGUJIAN HIPOTESIS
BAB 7
hipotesis adalah jawaban sementara terhadap suatu
masalah. Jawaban tersebut masih perlu diuji kebenarannya. Seorang
peneliti pasti akan mengamati sesuatu gejala, peristiwa, atau masalah
yang menjadi focus perhatiannya. Sebelum mendapatkan fakta yang benar,
mereka akan membuat dugaan tentang gejala, peristiwa, atau masalah yang
menjadi titik perhatiannya tersebut.
2. Fungsi Hipotesis
Fungsi atau kegunaan hipotesis yang disusun dalam suatu rencana penelitian, setidaknya ada empat yaitu:
a. Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
Untuk dapat sampai
pada pengetahuan yang dapat dipercaya mengenai masalah pendidikan,
peneliti harus melangkah lebih jauh dari pada sekedar mengumpukan fakta
yang berserakan, untuk mencari generalisasi dan antar hubungan yang ada
diantara fakta-fakta tersebut. Antar hubungan dan generalisasi ini akan
memberikan gambaran pola, yang penting untuk memahami persoalan. Pola
semacam ini tidaklah menjadi jelas selama pengumpulan data dilakukan
tanpa arah. Hipotesis
yang telah terencana dengan baik akan memberikan arah dan mengemukakan
penjelasan. Karena hipotesis tersebut dapat diuji dan divalidasi
(pengujian kesahiannya) melalui penyelidikan ilmiah, maka hipotesis
dapat mebantu kita untuk memperluas pengetahuan.
b. Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji dalam penelitian.
Pertanyaan
tidak dapat diuji secara langsung. Penelitian memang dimulai dengan
suatu pertanyaan, akan tetapi hanya hubungan antara variabel yang akan
dapat duji. Misalnya, peneliti tidak akan menguji pertanyaan apakah
komentar guru terhadap pekerjaan murid menyebabkan peningkatan hasil
belajar murid secara nyata“? akan tetapi peneliti menguji hipotesis yang
tersirat dalam pertanyaan tersebut “komentar guru terhadap hasil
pekerjaan murid, menyebabkan meningkatnya hasil belajar murid secara
nyata“ atau yang lebih spesifik lagi “skor hasil belajar siswa yang
menerima komentar guru atas pekerjaan mereka sebelumnya akan lebih
tinggi dari pada skor siswa yang tidak menerima komentar guru atas
pekerjaan mereka sebelumnya“. Selanjutnya peneliti, dapat melanjutkan
penelitiannya dengan meneliti hubngan antara kedua vatiabel tersebut,
yaitu komentar guru dan prestasi siswa.
c. Hipotesis memberikan arah kepada penelitian
Hipotesis
merupakan tujuan khusus. Dengan demikian hipotesis juga menentukan
sifat-sifat data yang diperlukan untuk menguji pernyataan tersebut.
Secara sangat sederhana, hipotesis menunjukkan kepada para peneliti apa
yang harus dilakukan. Fakta yang harus dipilih dan diamati adalah fakta
yang adahubungann nya dengan pertanyaan tertentu. Hipotesislah yang
mentukan relevansi fakta-fakta itu. Hipotesis ini dapat memberikan dasar
dalam pemilihan sampel serta prosedur penelitian yang harus dipakai.
Hipotesis jufga dapat menunjukkan analisis satatistik yang diperlukan
dan hubungannya yang harus menunjukkan analisis statistik yang
diperlukan agar ruang lingkup studi tersebut tetap terbatas, dengan
mencegahnya menjadi terlalu sarat.
Sebagi
contoh, lihatlah kembali hipotesis tentang, latihan pra sekolah bagi
anak-anak kelas satu yang mengalami hambatan kultural. Hipotesi ini
menunjukkan metode penelitian yang diperlukan serta sampel yang harus
digunakan. Hipotesis inipun bahkan menuntun peneliti kepada tes
statistik yang mungkin diperlukan untuk menganalisis data. Dari
pernyataan hipotesis itu, jelas bahwa peneliti harus melakukan
eksperimen yang membandingkan hasil eblajr dikelas satu dari sampel
siswa yang mengalami hambatan kultural dan telah mengalami program pra
sekolah dengan sekelompok anak serupa yang tidak mengalami progaram pra
sekolah. Setiap perbedaan hasil belajar rata-rat kedua kelompok tersebut
dapat dianalaisis denga tes atai teknik analis variansi, agar dapat
diketahui signifikansinya menurut statistik.
d. Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan.
Akan
sangat memudahkan peneliti jika mengambil setiap hipotesis secara
terpisah dan menyatakan kesimpulan yang relevan dengan hipotesis
tersebut. Artinya, peneliti dapat menyusun bagian laporan tertulis ini
diseputar jawaban-jawaban terhadap hipotesis semula, sehingga membuat
penyajian ini lebih berarti dan mudah dibaca.
3. Ciri-Ciri Hipotesis yang Baik
Sebuah hipotesis atau dugaan sementara yang baik hendaknya mengandung beberapa hal.
Hal – hal tersebut diantaranya :
1) Hipotesis harus mempunyai daya penjelas
2) Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel-variabel-variabel.
3) Hipotesis harus dapat diuji
4) Hipotesis hendaknya konsistesis dengan pengetahuan yang sudah ada.
5) Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin.
1) Hipotesis harus mempunyai daya penjelas
2) Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel-variabel-variabel.
3) Hipotesis harus dapat diuji
4) Hipotesis hendaknya konsistesis dengan pengetahuan yang sudah ada.
5) Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin.
langkah-langkah pengujian hipotetsis adalah sebagai berikut :
- Nyatakan hipotetsis nolnya H0 bahwa q = qo ,
- Pilih hipotetsis alternative atau lawan hipotesis awal H1 yang sesuai q ¹ qo, q > q0 ,q < qo
- Tentukan taraf signifikan a.
- Pilih statistic uji yang digunakan apakah z, t, c2 , F atau lainnya.
- Tentukan wilayah ktitisnya atau daerah penolakan Ho
- Perhitungan nilai statistic uji berdasarkan sample.
- Kesimpulan, yaitu Keputusan antara tolak H0 atau terima Ho.
Uji beda mean terdiri dari
1. uji beda mean satu sampel
2. Uji beda mean dua sampel
- dua
mean independen
- dua mean dependen
Bila σ (tho) tidak
diketahui → “Uji t” rumus”: X - µ t = Sd / √n§
Bila σ (tho) diketahui → “Uji Z” rumus: X - µ Z = σ / √n
UJI BEDA MEAN SATU
SAMPEL Uji untuk mengetahui perbedaan mean populasi dengan mean data sampel
penelitian Jenis uji beda satu mean
UJI HIPOTESIS BEDA DUA MEAN SAMPEL INDEPENDEN BERUKURAN
BESAR (n1≥30&standar dari distribusi sampling harga beda dua mean (standar
error), dinyatakan dengan: σ1 2 σ2 2 σ X1-X2 = ------- + ------- n1 n2 - Jika
standar populasi tidak diketahui
a. Standar kedua populasi diasumsikan tidak
sama S 1 2 S2 2 Sx1-x2 = ------ + ------ n1 n2
b. Standar kedua populasi
diasumsikan samaàn2≥30)
tugas statistika bab 8 tugas10-12
Analisis Variansi
bab 8
Analisis variansi adalah suatu prosedur untuk uji perbedaan mean beberapapopulasi.
Konsep analisis variansi didasarkan pada konsep distribusi F dan biasanya dapat
diaplikasikan untuk berbagai macam kasus maupun dalam analisis hubungan
antara berbagai varabel yang diamati. Dalam perhitungan statistik, analisis
variansi sangat dipengaruhi asumsi-asumsi yang digunakan seperti kenormalan
dari distribusi, homogenitas variansi dan kebebasan dari kesalahan.
Asumsi kenormalan distribusi memberi penjelasan terhadap karakteristik data
setiap kelompok. Asumsi adanya homogenitas variansi menjelaskan bahwa
variansi dalam masing-masing kelompok dianggap sama. Sedangkan asumsi
bebas menjelaskan bahwa variansi masing-masing terhadap rata-ratanya pada
setiap kelompok bersifat saling bebas.
Hipotesis ANOVA satu arah
· H0 : μ1= μ 2 = μ 3 = … = μ k
o Seluruh mean populasi adalah sama
o Tidak ada efek treatment ( tidak ada keragaman mean dalam grup )
· H1 : tidak seluruhnya mean populasi adalah sama
o Terdapat sebuah efek treatment
o Tidak seluruhmean populasi berbeda ( beberapa pasang mungkin sama )
Partisi Variansi
Variansi total dapat dibagi menjadi 2 bagian :
SST = SSG + SSW
SST = Total sum of squares (jumlah kuadrat total ) yaitu penyebaran agregat
nilai data individu melalui beberapa level vaktor .
SSG/SSB = Sum of squares between-grup ( jumlah kuadrat antara ) yaitu
penyebaran diantara mean sampel factor .
SSW/SSE = Sum of squares within-grup ( jumlah kuadrat dalam ) yaitu
penyebaran yang terdapat diantara nilai data dalam sebuah
level factor tertentu .
Rumus jumlah kuadarat total ( total sum of squares )

Dimana
SST = total sum of squares ( jumlah kadarat total )
k = levels of treatment ( jumlah populasi )
ni = ukuran sampel dari poplasi i
x ij = pengukuran ke-j dari populsi ke-i
x = mean keseluruha ( dari seluruh nilai data )
Variansi total

Rumus untuk mencari variasi jumlah kuadrat dalam

Keterangan :
SSW/SSE = jumlah kuadrat dalam.
k = levels of treatment ( jumlah populasi )
ni = ukuran sampel dari poplasi i
x ij = pengukuran ke-j dari populsi ke-i
x = mean keseluruha ( dari seluruh nilai data )
Rumus untuk mencari varisi diantara grup

Keterangan :
SSB/SSG = jumlah kuadrat diantara
k = levels of treatment ( jumlah populasi )
ni = ukuran sampel dari poplasi i
x ij = pengukuran ke-j dari populsi ke-i
x = mean keseluruha ( dari seluruh nilai data )
Rumus variasi dalam kelompok

MSW = Rata-rata variasi dalam kelompok
SSW = jumlah kuadrat dalam
N-K = derajat bebas dari SSW
rumus variasi diantara kelompok

MSW/SSW = Rata-rata variasi diantara kelompok
SSG = jumlah kuadrat antara
k-1 = derajat bebas SSG

Analisis Varians Dua Arah dengan Interaksi
Pengujian anova dua arah dengan interaksi merupakan pengujian hipotesis
beda tiga rata – rata atau lebih dengan dua faktor yang berpengaruh dengan
adanya interaksi antara kedua faktor .
Langkah – langkah pengujian analisis
varians dua arah dengan interaksi
1. Menentukan
formulasi hipotesis
a. H0 :
α1 = α2 = α3 = ..... = αb = 0
H1 : sekurang – kurangnya satu αi tidak
sama dengan nol
b. H0 :
β1 = β2 = β3 = ...... = βk = 0
H1 = sekurang – kurangnya satu βj tidak
sama dengan nol
c. H0 :
(αβ )11 = (αβ)12 = (αβ)13 = ..... = (αβ)bk = 0
H1 : sekurang – kurangnya satu (αβ)ij ≠
0
2. Taraf
nyata ( α ) dan F tabel ditentukan dengan derajat pembilang dan penyebut masing
– masing ;
a. untuk
baris : v1 = b – 1 dan v2 = kb (n-1),
b. untuk
kolom : v1 = k – 1 dan v2 = kb (n-1),
c. untuk
interaksi : v1 = ( k -1 )( b-1) dan v2 = kb ( n – 1 ).
3. Menentukan
kriteria pengujian
a. Untuk
baris :
H0 diterima apabila F0 ≤ F α(v1;v2)
H0 ditolak apabila F0 > F α(v1;v2)
b. Untuk
kolom :
H0 diterima apabila F0 ≤ F α(v1;v2)
H0 ditolak apabila F0 > F α(v1;v2)
a. Untuk
interaksi :
H0 diterima apabila F0 ≤ F α(v1;v2)
H0 ditolak apabila F0 > F α(v1;v2)
4. Membuat
analisis varians dalam bentuk ANOVA
Sumber varians
|
Jumlah
Kuadrat
|
Derajat
kebebasan
|
Rata – Rata
kuadrat
|
F0
|
Rata – rata baris
Rata – Rata
Kolom
Interaksi
Error
|
JKB
JKK
JKI
JKE
|
b - 1
bk( n – 1 )
|
f1=
f2 =
f3 =
|
|
TOTAL
|
JKT
|
b
= baris, k = kolom, n = ulangan
percobaan
5. Membuat
kesimpulan
Menyimpulkan H0 diterima atau ditolak,
dengan membandingkan antara langkah ke -4 dengan kriteria pengujian pada
langkah ke – 3.
langkah-langkah melakukan uji hipotesis dengan ANOVa
Kumpulkan sampel dan kelompokkan berdasarkan kategori tertentu.
Untuk memudahkan pengelompokkan dan perhitungan, buat tabel data sesuai dengan kategori berisi sampel dan kuadrat dari sampel tersebut. Hitung pula total dari sampel dan kuadrat sampel tiap kelompok. Selain itu, tentukan pula hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (H1).Menentukan tipe anova
Untuk menentukan tipe anova. terlebih dahulu bertanya apakah dari hipotesis tersebut cocok untuk anova? jika tujuannya membandingkan rata-rata tiga kelompok atau lebih maka boleh pakai Anova. Pertanyaan keduaapakah sampel tiap kelompok diambil dari sampel yang berbeda? jika berasal dari sampel yang berbeda maka menggunakan Anova satu arah/one way.Memeriksa apakah sudah memenuhi asumsi-asumsi sehingga bisa digunakan anova
Normalitas,
adalah Menguji apakah data tiap kelompok memiliki distribusi normal. hal ini bisa dilakukan dengan uji kolmogorov smirnov, shapira wilk.Homogenitas
adalah Menguji apakah varians tiap kelompok sama. Dalam menghitung homogenitas bisa digunakan uji bartlett dan uji levene.Saling bebas
Menunjukkan bahwa setiap kelompok tidak saling berhubungan. Biasanya yang digunakan logika apakah saling bebas atau tidak.Aditif (Saling menjumlahkan).
Artinya data yang dianalisis merupakan data interval/rasio
Menghitung variabilitas dari seluruh sampel.
Pengukuran total variabilitas atas data dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, berikut rumus dalam Anova:Total of sum squares (SSt) – jumlah kuadrat total (jkt).
Merupakan jumlah kuadrat selisih antara skor individual dengan rata-rata totalnya.
Keterangan: k = banyaknya kolom N = Banyaknya pengamatan/ keseluruhan data
ni = banyaknya ulangan di kolom ke-i xij = data pada kolom ke-i ulangan ke-j T** = Total (jumlah) seluruh pengamatanSum Square Between(SSb) – jumlah kuadrat kolom (jkk).
Variansi rata-rata kelompok sampel terhadap rata-rata keseluruhannya. Variansi di sini lebih terpengaruh karena adanya perbedaan perlakuan antar kelompok.
Keterangan
T*i = Total (jumlah) ulangan pada kolom ke-iSum Square within(SSw) – jumlah kuadrat galat (jkg).
Variansi yang ada dalam masing-masing kelompok. Banyaknya variansi akan tergantung pada banyaknya kelompok, dan variansi di sini tidak terpengaruh / tergantung oleh perbedaan perlakuan antar kelompok.JKG = JKT - JKK
Menghitung derajat kebebasan (degree of freedom).
Derajat kebebasan atau degree of freedom (dilambangkan dengan v, dof, atau db) dalam ANOVA akan sebanyak variabilitas. Oleh karena itu, ada tiga macam derajat kebebasan yang akan kita hitung:Derajat kebebasan untuk JKT
merupakan derajat kebebasan dari Jumlah kuadrat total (JKT) ini akan kita lambangkan dengan dof JKT.db JKT = N - 1Derajat kebebasan untuk JKK
merupakan derajat kebebasan dari Jumlah kuadrat kolom (JKK) ini akan kita lambangkan dengan dof JKK.db JKK = k-1Derajat kebebasan untuk JKG
Merupakan derajat kebebasan dari Jumlah kuadrat galat (JKG) ini akan kita lambangkan dengan dof JKGdb JKG = N - k
Derajat kebebasan juga memiliki sifat hubungan yang sama dengan sifat hubungan variabel, yakni:db JKT = db JKK + db JKG
Menghitung variance antar kelompok dan variance dalam kelompok.
Variance dalam ANOVA, baik untuk antar kelompok maupun dalam kelompok sering disebut dengan kuadrat tengah atau deviasi rata-rata kuadrat (mean squared deviation) dan dilambangkan dengan MS atau KT. Dengan demikian, maka mean squared deviation masing-masing dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:- KTK = JKK / db JKK
- KTG = JKG / db JKG
Menghitung F hitung
Menghitung nilai distribusi F (Fhitung) berdasarkan perbandingan variance antar kelompok dan variance dalam kelompok.Fhitung didapatkan dengan rumus di bawah ini:Fhitung = KTK/KTGMenghitung F tabel
Selain itu, F berdasarkan tabel (Ftabel) juga dihitung, berdasarkan nilai derajat kebebasan (langkah ke-4) menggunakan tabel distribusi-F. Jangan lupa untuk mencantumkan gambar posisi Fhitung dan Ftabel dalam grafik distribusi-F.Membandingkan Fhitung dengan Ftabel :
- Jika Fhitung > Ftabel : tolak H0
- Jika Fhitung ≤ Ftabel : terima H0
Buat kesimpulan,
sesuai dengan kasus awal yang ditanyakan. Simpulkan, apakah perlakuan (treatment) memiliki efek yang signifikan pada sampel data atau tidak. Jika hasil tidak signifikan, berarti seluruh rata-rata sampel adalah sama. Jika perlakuan menghasilkan efek yang signifikan, setidaknya satu dari rata-rata sampel berbeda dari rata-rata sampel yang lain.
tugas statistika bab 9 tugas 13-15
Analisis Regresi dan korelasi
bab 9
Analisis
regresi merupakan salah satu analisis yang bertujuan untuk mengetahui
pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain. Dalam analisis regresi,
variabel yang mempengaruhi disebut Independent Variable (variabel bebas)
dan variabel yang dipengaruhi disebut Dependent Variable (variabel
terikat). Jika dalam persamaan regresi hanya terdapat satu variabel
bebas dan satu variabel terikat, maka disebut sebagai persamaan regresi
sederhana, sedangkan jika variabel bebasnya lebih dari satu, maka
disebut sebagai persamaan regresi berganda.
Analisis Korelasi merupakan suatu analisis untuk mengetahui tingkat keeratan hubungan antara dua variabel. Tingkat hubungan tersebut dapat dibagi menjadi tiga kriteria, yaitu mempunyai hubungan positif, mempunyai hubungan negatif dan tidak mempunyai hubungan.
Analisis Regresi Sederhana : digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat atau dengan kata lain untuk mengetahui seberapa jauh perubahan variabel bebas dalam mempengaruhi variabel terikat. Dalam analisis regresi sederhana, pengaruh satu variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dibuat persamaan sebagai berikut : Y = a + b X. Keterangan : Y : Variabel terikat (Dependent Variable); X : Variabel bebas (Independent Variable); a : Konstanta; dan b : Koefisien Regresi. Untuk mencari persamaan garis regresi dapat digunakan berbagai pendekatan (rumus), sehingga nilai konstanta (a) dan nilai koefisien regresi (b) dapat dicari dengan metode sebagai berikut :
a = [(ΣY . ΣX2) – (ΣX . ΣXY)] / [(N . ΣX2) – (ΣX)2] atau a = (ΣY/N) – b (ΣX/N)
b = [N(ΣXY) – (ΣX . ΣY)] / [(N . ΣX2) – (ΣX)2]
Contoh :
Berdasarkan hasil pengambilan sampel secara acak tentang pengaruh lamanya belajar (X) terhadap nilai ujian (Y) adalah sebagai berikut :
(nilai ujian)
|
X (lama belajar)
|
X 2
|
XY
|
40
|
4
|
16
|
160
|
60
|
6
|
36
|
360
|
50
|
7
|
49
|
350
|
70
|
10
|
100
|
700
|
90
|
13
|
169
|
1.170
|
ΣY = 310
|
ΣX = 40
|
ΣX2 = 370
|
ΣXY = 2.740
|
Dengan menggunakan rumus di atas, nilai a dan b akan diperoleh sebagai berikut :
a = [(ΣY . ΣX2) – (ΣX . ΣXY)] / [(N . ΣX2) – (ΣX)2]
a = [(310 . 370) – (40 . 2.740)] / [(5 . 370) – 402] = 20,4
b = [N(ΣXY) – (ΣX . ΣY)] / [(N . ΣX2) – (ΣX)2]
b = [(5 . 2.740) – (40 . 310] / [(5 . 370) – 402] = 5,4
Sehingga persamaan regresi sederhana adalah Y = 20,4 + 5,2 X
Berdasarkan hasil penghitungan dan persamaan regresi sederhana tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa :
a = [(ΣY . ΣX2) – (ΣX . ΣXY)] / [(N . ΣX2) – (ΣX)2]
a = [(310 . 370) – (40 . 2.740)] / [(5 . 370) – 402] = 20,4
b = [N(ΣXY) – (ΣX . ΣY)] / [(N . ΣX2) – (ΣX)2]
b = [(5 . 2.740) – (40 . 310] / [(5 . 370) – 402] = 5,4
Sehingga persamaan regresi sederhana adalah Y = 20,4 + 5,2 X
Berdasarkan hasil penghitungan dan persamaan regresi sederhana tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa :
1) Lamanya
belajar mempunyai pengaruh positif (koefisien regresi (b) = 5,2)
terhadap nilai ujian, artinya jika semakin lama dalam belajar maka akan
semakin baik atau tinggi nilai ujiannya; 2) Nilai konstanta adalah
sebesar 20,4, artinya jika tidak belajar atau lama belajar sama dengan
nol, maka nilai ujian adalah sebesar 20,4 dengan asumsi
variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi dianggap tetap.
Analisis Korelasi (r) : digunakan untuk mengukur tinggi redahnya derajat hubungan antar variabel yang diteliti. Tinggi rendahnya derajat keeratan tersebut dapat dilihat dari koefisien korelasinya. Koefisien korelasi yang mendekati angka + 1 berarti terjadi hubungan positif yang erat, bila mendekati angka – 1 berarti terjadi hubungan negatif yang erat. Sedangkan koefisien korelasi mendekati angka 0 (nol) berarti hubungan kedua variabel adalah lemah atau tidak erat. Dengan demikian nilai koefisien korelasi adalah – 1 ≤ r ≤ + 1. Untuk koefisien korelasi sama dengan – 1 atau + 1 berarti hubungan kedua variabel adalah sangat erat atau sangat sempurna dan hal ini sangat jarang terjadi dalam data riil. Untuk mencari nilai koefisen korelasi (r) dapat digunakan rumus sebagai berikut : r = [(N . ΣXY) – (ΣX . ΣY)] / √{[(N . ΣX2) – (ΣX)2] . [(N . ΣY2) – (ΣY)2]}
Contoh :
Sampel yang diambil secara acak dari 5 mahasiswa, didapat data nilai Statistik dan Matematika sebagai berikut :
Analisis Korelasi (r) : digunakan untuk mengukur tinggi redahnya derajat hubungan antar variabel yang diteliti. Tinggi rendahnya derajat keeratan tersebut dapat dilihat dari koefisien korelasinya. Koefisien korelasi yang mendekati angka + 1 berarti terjadi hubungan positif yang erat, bila mendekati angka – 1 berarti terjadi hubungan negatif yang erat. Sedangkan koefisien korelasi mendekati angka 0 (nol) berarti hubungan kedua variabel adalah lemah atau tidak erat. Dengan demikian nilai koefisien korelasi adalah – 1 ≤ r ≤ + 1. Untuk koefisien korelasi sama dengan – 1 atau + 1 berarti hubungan kedua variabel adalah sangat erat atau sangat sempurna dan hal ini sangat jarang terjadi dalam data riil. Untuk mencari nilai koefisen korelasi (r) dapat digunakan rumus sebagai berikut : r = [(N . ΣXY) – (ΣX . ΣY)] / √{[(N . ΣX2) – (ΣX)2] . [(N . ΣY2) – (ΣY)2]}
Contoh :
Sampel yang diambil secara acak dari 5 mahasiswa, didapat data nilai Statistik dan Matematika sebagai berikut :
Sampel
|
X (statistik)
|
Y (matematika)
|
XY
|
X2
|
Y2
|
1
|
2
|
3
|
6
|
4
|
9
|
2
|
5
|
4
|
20
|
25
|
16
|
3
|
3
|
4
|
12
|
9
|
16
|
4
|
7
|
8
|
56
|
49
|
64
|
5
|
8
|
9
|
72
|
64
|
81
|
Jumlah
|
25
|
28
|
166
|
151
|
186
|
r = [(N . ΣXY) – (ΣX . ΣY)] / √{[(N . ΣX2) – (ΣX)2] . [(N . ΣY2) – (ΣY)2]}
r = [(5 . 166) – (25 . 28) / √{[(5 . 151) – (25)2] . [(5 . 186) – (28)2]} = 0,94
Nilai koefisien korelasi sebesar 0,94 atau 94 % menggambarkan bahwa antara nilai statistik dan matematika mempunyai hubungan positif dan hubungannya erat, yaitu jika mahasiswa mempunyai nilai statistiknya baik maka nilai matematikanya juga akan baik dan sebaliknya jika nilai statistik jelek maka nilai matematikanya juga jelek.
r = [(5 . 166) – (25 . 28) / √{[(5 . 151) – (25)2] . [(5 . 186) – (28)2]} = 0,94
Nilai koefisien korelasi sebesar 0,94 atau 94 % menggambarkan bahwa antara nilai statistik dan matematika mempunyai hubungan positif dan hubungannya erat, yaitu jika mahasiswa mempunyai nilai statistiknya baik maka nilai matematikanya juga akan baik dan sebaliknya jika nilai statistik jelek maka nilai matematikanya juga jelek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar